Dosen: Parino
Leadership merupakan sebuah topik bahasan yang tidak asing lagi bagi kita. Mungkin kita sudah lama mengetahui dan mengenalnya dari dulu, meskipun tidak banyak dari kita yang mampu menerapkannya dalam keseharian. Entah disadari ataupun tidak, kini leadership semakin gencar didengungkan, bahkan sudah menjadi salah satu mata kuliah wajib hampir di semua jurusan perguruan tinggi.
Sebenarnya apakah leadership itu? Mengapa leadership menjadi suatu perhatian khusus? Leadership atau kepemimpinan merupakan sesuatu yang menarik untuk dibahas dan dipelajari. Muncul berbagai macam teori kepemimpinan, dan bersamaan itu pula muncul keraguan mengenai hal tersebut. Apakah seorang pemimpin itu dilahirkan atau dibentuk?
Seorang pemimpin memiliki beban dan tanggung jawab yang besar untuk menjalankan misi-misinya menuju visi yang ingin dicapai. Pemimpin yang satu dengan yang lain memiliki karakter dan gaya kepemimpinan yang berbeda. Sebagai contoh, para presiden negara kita memiliki karakternya sendiri-sendiri. Ir. Soekarno merupakan seorang orator yang hebat, beliau dapat menggerakan rakyat melalui pidato-pidatonya. Sedangkan Gus Dur adalah sosok yang cerdas dan berpikiran jauh ke depan, bahkan terkadang melawan arus. Beliau lebih santai dalam menjalankan pemerintahannya. Lain halnya dengan Gus Dur, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memilih langkah sistematis dan retorikal dalam memimpin negara ini. Presiden Amerika Serikat sekarang ini, Barack Obama, memiliki karakter yang cerdas dan lebih manusiawi daripada pendahulu-pendahulunya. Beliau yang dulunya juga aktivis Harvard, membentuk basis pendukungnya dari bawah untuk dapat memenangkan pemilu Amerika Serikat. Beberapa tahun lalu, juga ada istilah wanita besi untuk Margaret Thatcher dikarenakan karakter tegas dalam kepemimpinannya sebagai perdana menteri Inggris.
Dalam menjalankan kepemimpinannya, seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan emosi dan kompetensi diri. Hal-hal tersebut menjadi landasan seorang pemimpin untuk mengelola dirinya sendiri dan orang lain sehingga dapat menjadi pemimpin yang baik.
1. Kompetensi Diri
Adalah kemampuan yang menentukan bagaimana kita mengelola diri sendiri.
a. Kesadaran Diri
- Kesadaran diri emosi
Membaca emosi diri sendiri dan mengenali dampaknya.
- Penilaian diri yang kuat
Mengetahui kekuatan dan keterbatasan diri.
- Kepercayaan diri
Kepekaan yang sehat mengenai harga diri dan kemampuan diri.
b. Pengelolaan Diri
- Kendali diri emosi
Mengendalikan emosi dan dorongan yang meledak-ledak.
- Transparansi
Menunjukkan kejujuran dan integritas.
- Kemampuan menyesuaikan diri
Kelenturan dalam beradaptasi dengan perubahan situasi.
- Pencapaian dorongan kerja
Memperbaiki kinerja dan memenuhi standar prestasi.
- Inisiatif
Kesiapan untuk bertindak dan menggunakan kesempatan.
- Optimisme
Melihat sisi positif suatu peristiwa.
2. Kompetensi Sosial
Adalah kemampuan yang menentukan bagaimana kita mengelola hubungan.
a. Kesadaran Sosial
- Empati
Merasakan emosi orang lain serta memahami sudut pandang orang lain.
- Kesadaran Organisasional
Membaca situasi yang terjadi.
- Pelayanan
Mengenal dan memenuhi kebutuhan pengikut, klien, dan juga pelanggan.
b. Pengelolaan Relasi
- Kepemimpinan yang menginspirasi
Membimbing dan memotivasi dengan semangat.
- Pengaruh
Menguasai berbagai taktik membujuk.
- Mengembangkan orang lain
Menunjang kemampuan orang lain dengan umpan balik dan bimbingan.
- Katalis perubahan
Memprakarsai, mengelola, dan memimpin di arah yang baru.
- Pengelolaan konflik
Menyelesaikan pertengkaran dan kesalahpahaman.
- Membangun ikatan
Menumbuhkan dan memelihara jaringan relasi.
- Kerja kelompok dan kolaborasi
Kerja sama dan pembangunan kelompok.
Seorang pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda satu sama lain. Menurut Daniel Goleman, Richard Boyatzis dan Annie McKee dalam Primal Leadership, gaya seseorang dalam memimpin dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Visioner
- Gaya ini membangun resonansi dengan menggerakkan orang-orang ke arah tujuan bersama.
- Dampak iklim emosi : paling positif
- Tepat digunakan ketika perubahan membutuhkan visi baru atau ketika dibutuhkan arah yang jelas.
b. Pembimbing
- Gaya ini membangun resonansi dengan menghubungkan apa yang diinginkan seseorang dengan sasaran organisasi.
- Dampak iklim emosi : sangat positif
- Tepat digunakan ketika membantu karyawan memperbaiki kinerjanya dengan kemampuan jangka panjang.
c. Afiliatif (pembangun relasi)
- Gaya ini membangun resonansi dengan menciptakan harmoni dengan menghubungkan orang-orang.
- Dampak iklim emosi : positif
- Tepat digunakan saat menengahi benturan dalam tim, memotivasi di saat-saat yang menekan, atau menguatkan hubungan.
d. Demokratis
- Gaya ini membangun resonansi dengan menghargai masukan orang dan mendapatkan komitmen melalui partisipasi.
- Dampak iklim emosi : positif
- Tepat digunakan saat membangun persetujuan atau kesepakatan, atau mendapatkan masukan yang berharga dari bawahan.
e. Penentu Kecepatan
- Gaya ini membangun resonansi dengan menghadapi tantangan dan tujuan yang menarik.
- Dampak iklim emosi : karena seringkali dilaksanakan secara buruk, dampaknya seringkali sangat negative. Namun jika dilakukan dengan benar maka hasilnya akan positif.
- Tepat digunakan ketika ingin mendapatkan hasil berkualitas tinggi dari tim yang bermotivasi dan kompeten.
f. Memerintah
- Gaya ini membangun resonansi dengan menenangkan rasa takut dengan memberi arah yang jelas di dalam keadaan darurat.
- Dampak iklim emosi : karena seringkali disalahgunakan, dampaknya sangat negative.
- Tepat digunakan ketika sangat kritis untuk membangkitkan perubahan arah atau pada pegawai/bawahan yang bermasalah.
Keterkaitan antara neurologi kepemimpinan dengan fungsi otak, yaitu :
Otak kiri Otak kanan
-pemikiran analistik - pemikiran holistic
-logika - intuisi
-bahasa - kreatifitas
-sains dan matematik - seni dan music
Amigdala, salah satu bagian otak, bertanggung jawab penuh atas perilaku seseorang saat mempertaruhkan sesuatu.
Seseorang yang cerdas di satu bidang tidak berarti cerdas di semua bidang karena orang dilahirkan dengan keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
Dalam pembahasan kepemimpinan, ada pemikiran menggelitik yang menghubungkan antara jenius dan kegilaan. Pemikiran itu muncul karena banyak tokoh-tokoh pemimpin dan tokoh-tokoh jenius yang ternyata memiliki gangguan kejiwaan. Meskipun masih sulit didiagnosa dan dipastikan secara gamblang, ada 7 penyakit yang mengaitkan antara kelainan jiwa dan jenius :
1. Disleksia
Adalah gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan mengenali dan memahami bahasa tertulis ketika membaca, menulis, dan mengeja.
Contoh : Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Walt Disney, Lee Kuan Yew.
2. Bipolar
Dicirikan oleh perubahan suasanan hati antara euphoria dan depresi.
Contoh : Winston Churchill, Robert Schumann, Vincent Van Gogh, Tim Burton.
3. Schizofrenia
Adalah gangguan kejiwaan parah yang ditandai dengan halusinasi, delusi, emosi yang tumpul dan penarikan diri yang dalam.
Contoh : John Nash
4. Obsesif Compulsive Disorder (OCD)
Adalah kondisi kejiwaan yang ditandai dengan tekanan untuk berpikir dan berperilaku terus-menerus, seperti terobsesi untuk terus mencuci tangan, mengecek pintu berulang-ulang, dll.
Contoh : Nicolas Tesla, Howard Hughes, Marc Summers.
5. Autistic Savant
Sekitar 10 persen penderita autis memiliki savant syndrome yang menunjukkan bakat-bakat luar biasa seperti menghitung cepat, kemampuan mekanik, seni lukis, music.
Contoh : beberapa professor di universitas yang cenderung suka menyendiri terdiagnosis memiliki autistic savant.
6. Terminal Illness
Penyakit terminal dapat memicu respon emosional yang luar biasa pada penderitanya.
Contoh : John Stuart Mills menderita TBC yang tidak dapt disembuhkan, setelah diagnosa dia mulai menulis karya-karya yang membuatnya terkenal.
7. Epilepsi
Banyak orang cerdas yang memiliki riwayat epilepsi.
Contoh : Julius Caesar, Napoleon Bonaparte, Alexander Agung, Charles Dickens.
Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang pemimpin yang ideal haruslah cerdik dalam menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan keadaan organisasi, kebutuhan organisasi, tujuan organisasi termasuk didalamnya mencermati situasi dan kondisi dari bawahnnya. Seorang pemimpin haruslah memiliki gaya kepemimpinan yang fleksibel agar dapat mengambil langkah dan tindakan yang tepat sasaran. Tentu saja hal tersebut membutuhkan tingkat kecerdasan emosional yang baik pula.
Tentang Kampus Tarumanagara Jakarta
Daftar Pertemuan Kapita Selekta Kelas B
OPINI DAN SIKAP KAMI
(7)
PERTEMUAN I
(1)
PERTEMUAN II
(1)
PERTEMUAN III
(1)
PERTEMUAN IV
(1)
PERTEMUAN PASCA UTS
(6)
PERTEMUAN V
(1)
PERTEMUAN VI
(1)
VII
(1)
31 Maret 2010
Komunikasi Politik dan Pembangunan
Dosen; Eko Harry Susanto
Menurut pendapat Nimmo (1993:8), komunikasi politik adalah komunikasi yang mengacu pada kegiatan politik.
Pembicaraan politik yakni pembicaraan yang mengandung bobot politik termasuk dalam komunikasi politik. Ketika komunikasi berada didalam masyarakat, biasanya selalu terkait dalam komunikasi politik.
Menurut pendapat Krans & Davis (1976:7), komunikasi politik merupakan proses komunikasi massa termasuk komunikasi antar pribadi dan elemen-elemen didalamnya yang mempunyai dampak terhadap perilaku politik.
Dengan pendanaan oleh pengusaha, dapat juga berhubungan dengan hal-hal politik. Walaupun pengusaha tersebut tidak langsung berhubungan dengan politik tersebut (hanya berupa pendanaan).
Di n egara berkembang,bisnis dan politik saling berkaitan dimana sarat akan pegnaruh dan kepentingan. Kapitalisme dapat diartikan sebagai bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk mendapatkan keuntungan. Kapitalisme semu diartikan sebagai ingin mendapatkan keuntungan dengan cara berhubungan dengan pilar-pilar negara.
Rush dan Althoff (1997:225), menyatakan bahwa komunikasi politik merupakan transmisi informasi yang secara politis dari satu bagian sistem, politik kepada sistem politik lain, dan antara sistem social dan sistem politik merupakan unsur dinamis dari suatu sistem politik.
Lima komponen komunikasi politik:
Komunikator politik
Pesan politik
Media komunikasi politik
Khalayak komunikasi politik
Dampak komunikasi dalam politik yaitu konsekuensi dari social politik
Diantara keliama tersebut, yang paling berperan di era maju seperti saat ini adalah media.
***
Pembangunan
Meskipun memiliki substansi yang lebih politis, tetapi biasanya tidak bisa lepas dari unsur modernisasi.
Rustow (1960:57), menyatakan bahwa pembangunan adalah sesuatu yang terus maju, dari suatu tahap yang primitive ketahap yang lebih maju.
Dalam upaya pembaharuan, Mc Quail (1987:97), prinsipnya menyatakan media paling baik digunakan secara terencana untuk menimbulkan perubahan dengan cara menerapkan dlama program pembangunan berskala besar.
***
Menurut pendapat Nimmo (1993:8), komunikasi politik adalah komunikasi yang mengacu pada kegiatan politik.
Pembicaraan politik yakni pembicaraan yang mengandung bobot politik termasuk dalam komunikasi politik. Ketika komunikasi berada didalam masyarakat, biasanya selalu terkait dalam komunikasi politik.
Menurut pendapat Krans & Davis (1976:7), komunikasi politik merupakan proses komunikasi massa termasuk komunikasi antar pribadi dan elemen-elemen didalamnya yang mempunyai dampak terhadap perilaku politik.
Dengan pendanaan oleh pengusaha, dapat juga berhubungan dengan hal-hal politik. Walaupun pengusaha tersebut tidak langsung berhubungan dengan politik tersebut (hanya berupa pendanaan).
Di n egara berkembang,bisnis dan politik saling berkaitan dimana sarat akan pegnaruh dan kepentingan. Kapitalisme dapat diartikan sebagai bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk mendapatkan keuntungan. Kapitalisme semu diartikan sebagai ingin mendapatkan keuntungan dengan cara berhubungan dengan pilar-pilar negara.
Rush dan Althoff (1997:225), menyatakan bahwa komunikasi politik merupakan transmisi informasi yang secara politis dari satu bagian sistem, politik kepada sistem politik lain, dan antara sistem social dan sistem politik merupakan unsur dinamis dari suatu sistem politik.
Lima komponen komunikasi politik:
Komunikator politik
Pesan politik
Media komunikasi politik
Khalayak komunikasi politik
Dampak komunikasi dalam politik yaitu konsekuensi dari social politik
Diantara keliama tersebut, yang paling berperan di era maju seperti saat ini adalah media.
***
Pembangunan
Meskipun memiliki substansi yang lebih politis, tetapi biasanya tidak bisa lepas dari unsur modernisasi.
Rustow (1960:57), menyatakan bahwa pembangunan adalah sesuatu yang terus maju, dari suatu tahap yang primitive ketahap yang lebih maju.
Dalam upaya pembaharuan, Mc Quail (1987:97), prinsipnya menyatakan media paling baik digunakan secara terencana untuk menimbulkan perubahan dengan cara menerapkan dlama program pembangunan berskala besar.
***
Perbedaan Jender
Dosen: Henny Wirawan
Perbedaan gender merupakan perbedaan perilaku psikologi dan fisik yang secara umum mengubungkan antara spesies wanita dan pria. Gender dan sex tidaklah sama. Perempuan dan laki-laki menunjuk pada sex. Sedangkan feminin dan maskulin menunjuk pada gender. Maka, perempuan dan laki-laki lebih dispesifikasikan ke dalam identitas seksual yang merupakan determinasi biologi. Gender menjelaskan bahwa maskulin dan feminin didasarkan pada konsepsi sosial yang diartikan untuk sex.

Suatu sex dikelompokan dengan kode genetik :
· Ciri-ciri biological terprogram dengan kode ini
· Kita menggunakan ciri-ciri biological ini untuk mengklasifikasi sex perempuan dan laki-laki.
· Ciri-ciri ini mencakup perbedaan dalam keadaan luar kelamin dan keadaan dalam pada organ sex, hormon, persentasi dari body fat, otot, jumlah dari rambut di badan
· Tanpa memperhatikan operasi gender yang telah dilakukan, sex adalah permanen.
· Sex adalah properti individual.
Suatu gender lebih kompleks daripada suatu sex :
· Seseorang tidak tidak dilahirkan dengan sebuah gender, hanya penempatan yang lebih kuat atau lebih lemah dari gender itu sendiri.
· Sex menentukan bagaimana seseorang harus disesuaikan dengan peran gender, tapi itu tidak merupakan jaminan.
· Arti dari gender tidak universal dan tidak juga stabil.
· Gender menunjuk arti sex secara kultural.
. Gender terpisah dengan apa yang di bangun oleh masyarakat, lain halnya dengan sex yang semuanya biologis.
· Tiap-tiap kebudayaan menentukan arti dari sex itu sendiri, yang menempatkan mereka menjadi kualitas, aktivitas dan identitas tertentu.
· Arti-arti tersebut di lekatkan kepada setiap struktur kehidupan budaya sosial.
· Setiap budaya merasa arti tersebut ”alami” atau ”benar”
· Kita terus menerus menerima pesan dalam budaya kita dan menguatkan pesan tersebut.
· Kita sering memakai sebuah gender yang telah diberikan oleh budaya kita yang didasari oleh sex kita.
· Walaupun itu tidak selalu terjadi, persepsi sosial ini secara umum memastikan bahwa perempuan akan menjadi feminin dan laki-laki akan menjadi maskulin.
Kesehatan Fisik.
Dari konsepsi kematian, tapi terutama pada masa remaja, perempuan lebih sulit untuk diserang penyakit kronis dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini karena perempuan mempunyai dua kromosom X.
Neurologi
Otak wanita lebih padat dibandingkan dengan otak laki-laki, walaupun kecil, otak perempuan lebih padat dengan neuron yang lebih dikhususkan untuk menanggapi bahasa. Perempuan memiliki fungsi bahasa yang terdistribusi ke dalam kedua cerebral hemispheres, dimana laki-laki lebih terkonsentrasi di hemisphere kiri. Ini menyebakan laki-laki lebih beresiko mengalami dileksia.
Psikologi
Di dalam skala pembelajaran yang lebih luas, sebagian besar kemampuan kognitif dan ciri-ciri psikologi memperlihatkan sedikit atau ketidakadaan rata-rata dari perbedaan antara sex-sex. Dimana ada pebedaan sex, maka akan selalu terjadi saling melengkapi yang sangat amat antara sex-sex tsb.
Tes Personaliti
Di dalam lima besar dari ciri-ciri atau karakter personaliti, perempuan memiliki skor lebih tinggi dalam hal menyetujui (kecenderungan menjadi berbelas kasihan dan bekerjasama) dan kecenderungan untuk merasa gelisah, marah, dan depresi. MBT of Demographics surveys mengindikasikan bahwa 60%-75% perempuan lebih memilih perasaan dan 55%-80% laki-laki lebih memilih pemikiran (logika).
Agresif
Laki-laki pada umumnya lebih agresif daripada perempuan (Coi&Dodge1997, Maccoby & Jacklin 1974, Buss 2005). Beberapa riset mengajukan bahwa perempuan tidak perlu untuk mengurangi keagresifan, namun mereka cenderung untuk menunjukkan keagresifan mereka tidak secara terang-terangan dan jarang menggunakan cara fisik.
Systematizing and empathizing
Perempuan memiliki skor yang lebih tinggi dalam hal berempati. Empati disini termasuk tindakan-tindakan dalam pengambilan keputusan, orientasi pada sesama, dan konsentrasi empatik. Bagaimana pun juga tindakan-tindakan tersebut subjektif, dan empati mungkin lebih berhubungan dengan perangender daripada sex.
Komunikasi
Kebudayaan maskulin dan feminin dan individualitas secara umum berbeda pada bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain. Sebagai contoh, Orang-orang yang feminin cenderung untuk menutup diri dari pada orang yang maskulin. Orang yang feminin cenderung untuk mengkomunikasikan sesuatu yang berhubungan dengan afeksi dan dengan lebih intim serta nyaman dibanding dengan orang maskulin.
Secara tradisional, orang maskulin dan feminin berkomunikasi dengan orang lain dengan gendernya masing-masing dan dengan cara yang berbeda. Orang-orang maskulin biasanya membangun persahabatan yang didasari oleh kesenangan/hobi umum, sedangkan orang feminin lebih karena suport dan saling pengertian. Begitu pula dengan persahabatan dengan gender yang berbeda juga didasari oleh kedekatan, penerimaan, usaha, komunikasi, hobi umum, afeksi, dan rasa tertarik.
Orang yang feminin tidak merasa bermasalah bila mengkomunikasikan kelemahan-kelemahan mereka. Karena alasan inilah, orang-orang yang feminin lebih sering dapat dekat sekali dengan teman mereka dibandingkan dengan orang maskulin. Orang yang feminin cenderung menghargai teman-teman mereka yang mendengarkan dan berkomunikasi tanpa kritik, mengkomunikasikan suport, perasaan, harga diri, kenyamanan, dsb. Dan orang yang feminin lebih menyukai komunikasi tatap muka.
Orang maskulin lebih mengharapkan adanya suatu hubungan lebih dari sekedar teman bila bersahabat dengan lawan jenis dibandingkan dengan orang yang feminin.
Komunikasi dan Budaya Gender
Sebuah budaya komunikasi adalah sebuah kelompok orang dengan norma-norma yang berlaku yang mengatur bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain dalam kelompok tersebut.
Kebudayaan ini dapat dikategorikan ke dalam maskulin dan feminin. Kebudayaan komunikasi yang lain termasuk Afrika-Amerika, orang yang lebih tua, Indian penduduk asli Amerika, laki-laki gay, lesbian, dan orang-orang dengan keterbatasan. Kebudayaan gender terbentuk dan berlanjut dengan interaksi dengan orang lain. Melalui komunikasi yang kita pelajari tentang kualitas dan aktivitas apa yang sudah ditentukan kebudayaan untuk sex kita.
Gaya-Gaya Komunikasi
Studi Deborah Tannen menemukan perbedaan gender dalam gaya komunikasi:
· orang maskulin cenderung untuk berbicara lebih daripada orang feminine, di muka umum, tapi orang feminin cenderung untuk berbicara lebih dari orang maskulin di rumah.
· Orang Feminin lebih cenderung untuk saling berhadapan dan melakukan kontak mata ketika berbicara, sementara orang-orang maskulin melihat ke arah lain.
· Orang Maskulin cenderung untuk melompat dari topik ke topik, tapi orang feminin cenderung untuk berbicara panjang lebar tentang satu topik.
· Saat mendengarkan, perempuan lebih banyak mengeluarkan suara-suara seperti "mm-hmm" dan "eh-eh", sedangkan orang-orang maskulin lebih cenderung diam.
· Orang Feminin cenderung untuk menyatakan persetujuan dan dukungan, sementara orang maskulin lebih cenderung untuk melakukan debat.
Julia T. Wood menjelaskan cara "perbedaan antara budaya menanamkan komunikasi gender." Perbedaan ini dimulai pada masa kanak-kanak.
Penelitian Maltz dan Borker's menunjukkan bahwa permainan anak-anak membantu anak-anak bersosialisasi ke dalam budaya maskulin dan feminin.
Sebagai contoh, anak perempuan bermain rumah-rumahan mempromosikan hubungan pribadi, dan bermain rumah-rumahan tidak perlu memiliki aturan tetap atau tujuan.
Laki-laki, bagaimanapun, cenderung untuk bermain olahraga tim yang lebih kompetitif dengan tujuan dan strategi yang berbeda.
Perbedaan-perbedaan ini sebagai anak-anak membuat orang feminin beroperasi dari asumsi tentang komunikasi dan menggunakan aturan untuk komunikasi yang berbeda secara signifikan dari yang didukung oleh sebagian besar orang maskulin
Wood Menghasilkan teori di bawah ini mengenai komunikasi gender:
· Kesalahpahaman berasal dari gaya interaksi yang berbeda
· orang Maskulin dan feminin memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan dukungan, perhatian dan kepedulian
· orang Maskulin dan feminine sering melihat pesan yang sama dengan cara yang berbeda
· orang Feminin cenderung untuk melihat komunikasi lebih sebagai cara untuk menghubungkan dan meningkatkan rasa kedekatan dalam hubungan
· Orang Maskulin melihat komunikasi lebih sebagai cara untuk mencapai tujuan
· Orang-rorang Feminin lebih banyak memberikan tanggapan dalam bentuk isyarat dan isyarat-isyarat nonverbal untuk menunjukkan minat dan membangun hubungan
· Orang Maskulin menggunakan sinyal umpan balik kepada kesepakatan aktual dan ketidaksepakatan
· Bagi orang feminin, "ums" "eh-huhs" dan "yes" hanya berarti mereka yang menunjukkan minat dan bersikap responsive
· Bagi orang-orang yang maskulin, tanggapan yang sama ini menunjukkan kesepakatan atau ketidaksepakatan dengan apa yang sedang dikomunikasikan
· Bagi orang feminin, berbicara adalah cara utama untuk menjadi lebih dekat kepada orang lain
· Bagi orang-orang yang maskulin, tujuan bersama dan penyelesaian tugas adalah cara utama untuk menjadi dekat dengan orang lain
· Orang maskulin lebih mungkin untuk mengekspresikan peduli dengan melakukan sesuatu yang konkret atau melakukan sesuatu bersama-sama dengan orang lain
· Orang Feminin dapat menghindari disakiti oleh orang-orang maskulin dengan menyadari betapa orang maskulin peduli untuk berkomunikasi.
· Orang Maskulin dapat menghindari disakiti oleh orang-orang feminin dengan menyadari bagaimana orang feminine peduli untuk berkomunikasi
· Orang yang Feminin ingin mengekspresikan kepedulian kepada orang maskulin dengan cara melakukan sesuatu untuk mereka atau dengan mereka.
· Orang Maskulin ingin mengekspresikan kepedulian keapda orang feminine dengan cara berkomunikasi secara lisan bahwa mereka peduli.
· Orang maskulin menekankan kemerdekaan dan untuk itu kecil kemungkinannya untuk meminta bantuan dalam mencapai objektif
· Orang maskulin sangat kecil kemungkinannya untuk menanyakan arah ketika mereka kehilangan daripada orang feminine
· Orang maskulin mempunyai keinginan untuk mempertahankan otonomi dan tidak tampak lemah atau tidak kompeten
· identitas Orang feminin lebih mengembangkan hubungan daripada orang maskulin
· orang Feminin lebih mencari dan menyambut hubungan dengan orang lain daripada orang maskulin
· Orang Maskulin cenderung berpikir bahwa hubungan membahayakan kemerdekaan mereka
· Bagi orang feminin, hubungan merupakan sumber konstan untuk minat, perhatian dan komunikasi
· Bagi orang-orang yang maskulin, hubungan bukan sebagai pusat
· Istilah "Berbicara tentang kita" berarti hal yang sangat berbeda untuk orang-orang maskulin dan feminine
· Orang Maskulin merasa bahwa tidak perlu berbicara tentang hubungan yang berjalan baik
· Orang Feminin merasa bahwa sebuah hubungan berjalan baik selama mereka berbicara tentang hal itu
· Orang Feminin dapat menghindari disakiti oleh orang maskulin dengan menyadari bahwa orang tidak selalu merasa perlu berbicara tentang hubungan yang berjalan baik
· Orang Maskulin dapat membantu memperbaiki komunikasi dalam suatu hubungan dengan menerapkan aturan komunikasi feminine
· Orang Feminin dapat membantu memperbaiki komunikasi dalam suatu hubungan dengan menerapkan aturan komunikasi maskulin
· Sama seperti aturan komunikasi Barat belum tentu berlaku dalam budaya Asia, aturan maskulin belum tentu berlaku dalam budaya feminin, dan sebaliknya.
Akhirnya, Wood menggambarkan bagaimana jenis kelamin yang berbeda dapat berkomunikasi satu sama lain dan memberikan enam saran untuk melakukannya:
1. Individu harus menangguhkan penilaian. Ketika seseorang menemukan nya sendiri bingung dalam percakapan lintas-gender, ia harus menahan kecenderungan untuk menghakimi dan bukannya mengeksplorasi apa yang terjadi dan bagaimana orang itu dan pasangan mereka mungkin lebih memahami satu sama lain.
2. Mengakui keabsahan gaya komunikasi yang berbeda. Feminin cenderung untuk menekankan hubungan, perasaan dan responsif ,tidak mencerminkan ketidakmampuan untuk mematuhi aturan-aturan maskulin untuk bersaing lebih dari maskulin, stres adalah kegagalan untuk mengikuti peraturan feminine atau kepekaan terhadap orang lain. Wood mengatakan bahwa tidak sepantasnya untuk menerapkan satu kriteria - baik maskulin atau feminin - untuk kedua jenis kelamin 'komunikasi. Sebaliknya, orang harus menyadari bahwa tujuan yang berbeda, prioritas dan standar yang berkaitan dengan masing-masing.
3. Menyediakan terjemahan isyarat. Mengikuti saran sebelumnya membantu orang menyadari bahwa orang-orang maskulin dan feminin cenderung untuk mempelajari aturan yang berbeda untuk interaksi dan yang masuk akal untuk berpikir tentang membantu yang lainnya menerjemahkan gender komunikasi Anda. Hal ini terutama penting karena tidak ada alasan mengapa salah satu jenis kelamin harus secara otomatis memahami aturan-aturan yang bukan bagian dari budaya gendernya.
4. Mencari terjemahan isyarat. Interaksi juga dapat ditingkatkan dengan mencari terjemahan isyarat dari orang lain. Mengambil pendekatan konstruktif untuk interaksi dapat membantu meningkatkan reaksi budaya lawan jenis.
5. Memperbesar gaya komunikasi Anda sendiri. Dengan mempelajari budaya komunikasi lain,kita tidak hanya belajar tentang budaya lain, tetapi juga tentang diri kita sendiri. Bersikap terbuka untuk belajar dan tumbuh dapat memperbesar keterampilan komunikasi sendiri dengan memasukkan aspek-aspek komunikasi yang ditekankan dalam kebudayaan lain. Menurut Wood, individu disosialisasikan ke maskulinitas bisa belajar banyak dari budaya feminin tentang bagaimana dukungan teman-teman. Demikian pula, budaya feminin dapat memperluas cara mereka mengalami keintiman dengan menghargai "kedekatan dalam melakukan" itu adalah kekhususan maskulin.
6. Wood mengulangi lagi, sebagai saran keenam, bahwa individu harus menangguhkan penilaian. Konsep ini sangat penting karena penilaian adalah suatu bagian dari budaya Barat yang tidak sulit untuk mengevaluasi dan kritik orang lain dan mempertahankan posisi kita sendiri. Sementara budaya jender sibuk menghakimi budaya gender lain dan membela diri mereka sendiri, mereka tidak membuat kemajuan dalam berkomunikasi secara efektif. Jadi, menangguhkan penilaian adalah pertama dan terakhir prinsip efektif komunikasi lintas gender.
Perbedaan gender merupakan perbedaan perilaku psikologi dan fisik yang secara umum mengubungkan antara spesies wanita dan pria. Gender dan sex tidaklah sama. Perempuan dan laki-laki menunjuk pada sex. Sedangkan feminin dan maskulin menunjuk pada gender. Maka, perempuan dan laki-laki lebih dispesifikasikan ke dalam identitas seksual yang merupakan determinasi biologi. Gender menjelaskan bahwa maskulin dan feminin didasarkan pada konsepsi sosial yang diartikan untuk sex.

Suatu sex dikelompokan dengan kode genetik :
· Ciri-ciri biological terprogram dengan kode ini
· Kita menggunakan ciri-ciri biological ini untuk mengklasifikasi sex perempuan dan laki-laki.
· Ciri-ciri ini mencakup perbedaan dalam keadaan luar kelamin dan keadaan dalam pada organ sex, hormon, persentasi dari body fat, otot, jumlah dari rambut di badan
· Tanpa memperhatikan operasi gender yang telah dilakukan, sex adalah permanen.
· Sex adalah properti individual.
Suatu gender lebih kompleks daripada suatu sex :
· Seseorang tidak tidak dilahirkan dengan sebuah gender, hanya penempatan yang lebih kuat atau lebih lemah dari gender itu sendiri.
· Sex menentukan bagaimana seseorang harus disesuaikan dengan peran gender, tapi itu tidak merupakan jaminan.
· Arti dari gender tidak universal dan tidak juga stabil.
· Gender menunjuk arti sex secara kultural.
. Gender terpisah dengan apa yang di bangun oleh masyarakat, lain halnya dengan sex yang semuanya biologis.
· Tiap-tiap kebudayaan menentukan arti dari sex itu sendiri, yang menempatkan mereka menjadi kualitas, aktivitas dan identitas tertentu.
· Arti-arti tersebut di lekatkan kepada setiap struktur kehidupan budaya sosial.
· Setiap budaya merasa arti tersebut ”alami” atau ”benar”
· Kita terus menerus menerima pesan dalam budaya kita dan menguatkan pesan tersebut.
· Kita sering memakai sebuah gender yang telah diberikan oleh budaya kita yang didasari oleh sex kita.
· Walaupun itu tidak selalu terjadi, persepsi sosial ini secara umum memastikan bahwa perempuan akan menjadi feminin dan laki-laki akan menjadi maskulin.
Kesehatan Fisik.
Dari konsepsi kematian, tapi terutama pada masa remaja, perempuan lebih sulit untuk diserang penyakit kronis dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini karena perempuan mempunyai dua kromosom X.
Neurologi
Otak wanita lebih padat dibandingkan dengan otak laki-laki, walaupun kecil, otak perempuan lebih padat dengan neuron yang lebih dikhususkan untuk menanggapi bahasa. Perempuan memiliki fungsi bahasa yang terdistribusi ke dalam kedua cerebral hemispheres, dimana laki-laki lebih terkonsentrasi di hemisphere kiri. Ini menyebakan laki-laki lebih beresiko mengalami dileksia.
Psikologi
Di dalam skala pembelajaran yang lebih luas, sebagian besar kemampuan kognitif dan ciri-ciri psikologi memperlihatkan sedikit atau ketidakadaan rata-rata dari perbedaan antara sex-sex. Dimana ada pebedaan sex, maka akan selalu terjadi saling melengkapi yang sangat amat antara sex-sex tsb.
Tes Personaliti
Di dalam lima besar dari ciri-ciri atau karakter personaliti, perempuan memiliki skor lebih tinggi dalam hal menyetujui (kecenderungan menjadi berbelas kasihan dan bekerjasama) dan kecenderungan untuk merasa gelisah, marah, dan depresi. MBT of Demographics surveys mengindikasikan bahwa 60%-75% perempuan lebih memilih perasaan dan 55%-80% laki-laki lebih memilih pemikiran (logika).
Agresif
Laki-laki pada umumnya lebih agresif daripada perempuan (Coi&Dodge1997, Maccoby & Jacklin 1974, Buss 2005). Beberapa riset mengajukan bahwa perempuan tidak perlu untuk mengurangi keagresifan, namun mereka cenderung untuk menunjukkan keagresifan mereka tidak secara terang-terangan dan jarang menggunakan cara fisik.
Systematizing and empathizing
Perempuan memiliki skor yang lebih tinggi dalam hal berempati. Empati disini termasuk tindakan-tindakan dalam pengambilan keputusan, orientasi pada sesama, dan konsentrasi empatik. Bagaimana pun juga tindakan-tindakan tersebut subjektif, dan empati mungkin lebih berhubungan dengan perangender daripada sex.
Komunikasi
Kebudayaan maskulin dan feminin dan individualitas secara umum berbeda pada bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain. Sebagai contoh, Orang-orang yang feminin cenderung untuk menutup diri dari pada orang yang maskulin. Orang yang feminin cenderung untuk mengkomunikasikan sesuatu yang berhubungan dengan afeksi dan dengan lebih intim serta nyaman dibanding dengan orang maskulin.
Secara tradisional, orang maskulin dan feminin berkomunikasi dengan orang lain dengan gendernya masing-masing dan dengan cara yang berbeda. Orang-orang maskulin biasanya membangun persahabatan yang didasari oleh kesenangan/hobi umum, sedangkan orang feminin lebih karena suport dan saling pengertian. Begitu pula dengan persahabatan dengan gender yang berbeda juga didasari oleh kedekatan, penerimaan, usaha, komunikasi, hobi umum, afeksi, dan rasa tertarik.
Orang yang feminin tidak merasa bermasalah bila mengkomunikasikan kelemahan-kelemahan mereka. Karena alasan inilah, orang-orang yang feminin lebih sering dapat dekat sekali dengan teman mereka dibandingkan dengan orang maskulin. Orang yang feminin cenderung menghargai teman-teman mereka yang mendengarkan dan berkomunikasi tanpa kritik, mengkomunikasikan suport, perasaan, harga diri, kenyamanan, dsb. Dan orang yang feminin lebih menyukai komunikasi tatap muka.
Orang maskulin lebih mengharapkan adanya suatu hubungan lebih dari sekedar teman bila bersahabat dengan lawan jenis dibandingkan dengan orang yang feminin.
Komunikasi dan Budaya Gender
Sebuah budaya komunikasi adalah sebuah kelompok orang dengan norma-norma yang berlaku yang mengatur bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain dalam kelompok tersebut.
Kebudayaan ini dapat dikategorikan ke dalam maskulin dan feminin. Kebudayaan komunikasi yang lain termasuk Afrika-Amerika, orang yang lebih tua, Indian penduduk asli Amerika, laki-laki gay, lesbian, dan orang-orang dengan keterbatasan. Kebudayaan gender terbentuk dan berlanjut dengan interaksi dengan orang lain. Melalui komunikasi yang kita pelajari tentang kualitas dan aktivitas apa yang sudah ditentukan kebudayaan untuk sex kita.
Gaya-Gaya Komunikasi
Studi Deborah Tannen menemukan perbedaan gender dalam gaya komunikasi:
· orang maskulin cenderung untuk berbicara lebih daripada orang feminine, di muka umum, tapi orang feminin cenderung untuk berbicara lebih dari orang maskulin di rumah.
· Orang Feminin lebih cenderung untuk saling berhadapan dan melakukan kontak mata ketika berbicara, sementara orang-orang maskulin melihat ke arah lain.
· Orang Maskulin cenderung untuk melompat dari topik ke topik, tapi orang feminin cenderung untuk berbicara panjang lebar tentang satu topik.
· Saat mendengarkan, perempuan lebih banyak mengeluarkan suara-suara seperti "mm-hmm" dan "eh-eh", sedangkan orang-orang maskulin lebih cenderung diam.
· Orang Feminin cenderung untuk menyatakan persetujuan dan dukungan, sementara orang maskulin lebih cenderung untuk melakukan debat.
Julia T. Wood menjelaskan cara "perbedaan antara budaya menanamkan komunikasi gender." Perbedaan ini dimulai pada masa kanak-kanak.
Penelitian Maltz dan Borker's menunjukkan bahwa permainan anak-anak membantu anak-anak bersosialisasi ke dalam budaya maskulin dan feminin.
Sebagai contoh, anak perempuan bermain rumah-rumahan mempromosikan hubungan pribadi, dan bermain rumah-rumahan tidak perlu memiliki aturan tetap atau tujuan.
Laki-laki, bagaimanapun, cenderung untuk bermain olahraga tim yang lebih kompetitif dengan tujuan dan strategi yang berbeda.
Perbedaan-perbedaan ini sebagai anak-anak membuat orang feminin beroperasi dari asumsi tentang komunikasi dan menggunakan aturan untuk komunikasi yang berbeda secara signifikan dari yang didukung oleh sebagian besar orang maskulin
Wood Menghasilkan teori di bawah ini mengenai komunikasi gender:
· Kesalahpahaman berasal dari gaya interaksi yang berbeda
· orang Maskulin dan feminin memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan dukungan, perhatian dan kepedulian
· orang Maskulin dan feminine sering melihat pesan yang sama dengan cara yang berbeda
· orang Feminin cenderung untuk melihat komunikasi lebih sebagai cara untuk menghubungkan dan meningkatkan rasa kedekatan dalam hubungan
· Orang Maskulin melihat komunikasi lebih sebagai cara untuk mencapai tujuan
· Orang-rorang Feminin lebih banyak memberikan tanggapan dalam bentuk isyarat dan isyarat-isyarat nonverbal untuk menunjukkan minat dan membangun hubungan
· Orang Maskulin menggunakan sinyal umpan balik kepada kesepakatan aktual dan ketidaksepakatan
· Bagi orang feminin, "ums" "eh-huhs" dan "yes" hanya berarti mereka yang menunjukkan minat dan bersikap responsive
· Bagi orang-orang yang maskulin, tanggapan yang sama ini menunjukkan kesepakatan atau ketidaksepakatan dengan apa yang sedang dikomunikasikan
· Bagi orang feminin, berbicara adalah cara utama untuk menjadi lebih dekat kepada orang lain
· Bagi orang-orang yang maskulin, tujuan bersama dan penyelesaian tugas adalah cara utama untuk menjadi dekat dengan orang lain
· Orang maskulin lebih mungkin untuk mengekspresikan peduli dengan melakukan sesuatu yang konkret atau melakukan sesuatu bersama-sama dengan orang lain
· Orang Feminin dapat menghindari disakiti oleh orang-orang maskulin dengan menyadari betapa orang maskulin peduli untuk berkomunikasi.
· Orang Maskulin dapat menghindari disakiti oleh orang-orang feminin dengan menyadari bagaimana orang feminine peduli untuk berkomunikasi
· Orang yang Feminin ingin mengekspresikan kepedulian kepada orang maskulin dengan cara melakukan sesuatu untuk mereka atau dengan mereka.
· Orang Maskulin ingin mengekspresikan kepedulian keapda orang feminine dengan cara berkomunikasi secara lisan bahwa mereka peduli.
· Orang maskulin menekankan kemerdekaan dan untuk itu kecil kemungkinannya untuk meminta bantuan dalam mencapai objektif
· Orang maskulin sangat kecil kemungkinannya untuk menanyakan arah ketika mereka kehilangan daripada orang feminine
· Orang maskulin mempunyai keinginan untuk mempertahankan otonomi dan tidak tampak lemah atau tidak kompeten
· identitas Orang feminin lebih mengembangkan hubungan daripada orang maskulin
· orang Feminin lebih mencari dan menyambut hubungan dengan orang lain daripada orang maskulin
· Orang Maskulin cenderung berpikir bahwa hubungan membahayakan kemerdekaan mereka
· Bagi orang feminin, hubungan merupakan sumber konstan untuk minat, perhatian dan komunikasi
· Bagi orang-orang yang maskulin, hubungan bukan sebagai pusat
· Istilah "Berbicara tentang kita" berarti hal yang sangat berbeda untuk orang-orang maskulin dan feminine
· Orang Maskulin merasa bahwa tidak perlu berbicara tentang hubungan yang berjalan baik
· Orang Feminin merasa bahwa sebuah hubungan berjalan baik selama mereka berbicara tentang hal itu
· Orang Feminin dapat menghindari disakiti oleh orang maskulin dengan menyadari bahwa orang tidak selalu merasa perlu berbicara tentang hubungan yang berjalan baik
· Orang Maskulin dapat membantu memperbaiki komunikasi dalam suatu hubungan dengan menerapkan aturan komunikasi feminine
· Orang Feminin dapat membantu memperbaiki komunikasi dalam suatu hubungan dengan menerapkan aturan komunikasi maskulin
· Sama seperti aturan komunikasi Barat belum tentu berlaku dalam budaya Asia, aturan maskulin belum tentu berlaku dalam budaya feminin, dan sebaliknya.
Akhirnya, Wood menggambarkan bagaimana jenis kelamin yang berbeda dapat berkomunikasi satu sama lain dan memberikan enam saran untuk melakukannya:
1. Individu harus menangguhkan penilaian. Ketika seseorang menemukan nya sendiri bingung dalam percakapan lintas-gender, ia harus menahan kecenderungan untuk menghakimi dan bukannya mengeksplorasi apa yang terjadi dan bagaimana orang itu dan pasangan mereka mungkin lebih memahami satu sama lain.
2. Mengakui keabsahan gaya komunikasi yang berbeda. Feminin cenderung untuk menekankan hubungan, perasaan dan responsif ,tidak mencerminkan ketidakmampuan untuk mematuhi aturan-aturan maskulin untuk bersaing lebih dari maskulin, stres adalah kegagalan untuk mengikuti peraturan feminine atau kepekaan terhadap orang lain. Wood mengatakan bahwa tidak sepantasnya untuk menerapkan satu kriteria - baik maskulin atau feminin - untuk kedua jenis kelamin 'komunikasi. Sebaliknya, orang harus menyadari bahwa tujuan yang berbeda, prioritas dan standar yang berkaitan dengan masing-masing.
3. Menyediakan terjemahan isyarat. Mengikuti saran sebelumnya membantu orang menyadari bahwa orang-orang maskulin dan feminin cenderung untuk mempelajari aturan yang berbeda untuk interaksi dan yang masuk akal untuk berpikir tentang membantu yang lainnya menerjemahkan gender komunikasi Anda. Hal ini terutama penting karena tidak ada alasan mengapa salah satu jenis kelamin harus secara otomatis memahami aturan-aturan yang bukan bagian dari budaya gendernya.
4. Mencari terjemahan isyarat. Interaksi juga dapat ditingkatkan dengan mencari terjemahan isyarat dari orang lain. Mengambil pendekatan konstruktif untuk interaksi dapat membantu meningkatkan reaksi budaya lawan jenis.
5. Memperbesar gaya komunikasi Anda sendiri. Dengan mempelajari budaya komunikasi lain,kita tidak hanya belajar tentang budaya lain, tetapi juga tentang diri kita sendiri. Bersikap terbuka untuk belajar dan tumbuh dapat memperbesar keterampilan komunikasi sendiri dengan memasukkan aspek-aspek komunikasi yang ditekankan dalam kebudayaan lain. Menurut Wood, individu disosialisasikan ke maskulinitas bisa belajar banyak dari budaya feminin tentang bagaimana dukungan teman-teman. Demikian pula, budaya feminin dapat memperluas cara mereka mengalami keintiman dengan menghargai "kedekatan dalam melakukan" itu adalah kekhususan maskulin.
6. Wood mengulangi lagi, sebagai saran keenam, bahwa individu harus menangguhkan penilaian. Konsep ini sangat penting karena penilaian adalah suatu bagian dari budaya Barat yang tidak sulit untuk mengevaluasi dan kritik orang lain dan mempertahankan posisi kita sendiri. Sementara budaya jender sibuk menghakimi budaya gender lain dan membela diri mereka sendiri, mereka tidak membuat kemajuan dalam berkomunikasi secara efektif. Jadi, menangguhkan penilaian adalah pertama dan terakhir prinsip efektif komunikasi lintas gender.
Gelapnya Hukum di Indonesia

Dosen: S. Atalim
Minggu lalu, 24 Maret 2009, kelas Kapita Selekta dihadiri oleh seorang dosen dari pengamat hukum. Tanpa membawa apa-apa seperti kebanyakan dosen. Dosen yang merupakan pengajar di Fakultas Hukum Untar ini hanya membawa map berisi absen. Setelah menunggu sesaat dan mengotak-atik mic di ruang 1106A, dia menyapa kami.
Namanya Atalim. Tak ada materi mata kuliah yang disampaikan. Kami hanya berdiskusi selama satu jam lebih. Walaupun, tak ada materi, pertemuan ini cukup membuka pikiran kami tentang hukum dan kaitannya dengan komunikasi. Lebih asyiknya, kami banyak membahas isu-isu terkini yang sedang berkembang di media massa.
“Apa yang sekarang sedang hangat dibicarakan?” tanyanya tiba-tiba.
“Markus! Markus, Pak!” seru seorang mahasiswa.
Lalu mulailah kami bercerita panjang lebar, dan sempat bertukar pikiran tentang makelar kasus di tubuh Polri yang dibongkar oleh mantan Kabareskrim Polri, Susno Duaji. Berbagai pandangan dilontarkan.
“Kasus-kasus hukum yang tak kunjung selesai seperti ini menandakan carut marutnya sistem hukum di Indonesia,” ujarnya.
Dia mulai menyampaikan yang agak teoritis. Ada beberapa aspek yang berhubungan dengan hukum diurutkan dari kekuatannya antara lain, budaya, sosial, politik, ekonomi, dan hukum. Hukum merupakan aspek yang paling lemah, sehingga memungkinkan banyak praktik yang tak sesuai.
“Indonesia adalah negara hukum. Tetapi hukum yang seperti apa?” tanya sang dosen.
Sebenarnya negara hukum di dunia ini berdiri melahirkan hukum untuk mengatur masyarakat atas dasar dua asas, yakni kepastian hukum dan keadilan. Negara-negara di Eropa umumnya menganut asas kepastian, sedangkan di Amerika lebih cenderung menganut asas keadilan. Kepastian hukum merujuk pada Undang-undang yang ada di negara itu. Di sisi lain, keadilan lebih kepada pencarian makna di balik UU. Rasa keadilan masyarakat diikuti para penegak hukum.
Karena Indonesia adalah negara jajahan Belanda, maka penegakan hukum lebih mengacu kepada asas di Eropa. Hukum berdasarkan kepastian. Terbukti banyaknya UU yang dihasilkan oleh negara ini. Semuanya merujuk kepada UU yang berlaku.
Lalu, apakah dengan menganut asas seperti itu menyebabkan gelapnya hukum di Indonesia? Tidak juga! Sebenarnya bukan karena institusinya, substansi, atau sistem hukum yang dianut melainkan pelaku hukum di dalamnya. Nah, di sini lah budaya dan nilai-nilai yang dianut mulai bermain, lalu mempengaruhi persepsi individu.
Selanjutnya, kami juga membahas banyak hal lain yang lebih ke substansial hukum, antara lain pembelaan diri, advokasi, hukum perdata, hukum pidana, model penyelesaian sengketa, sampai ke bicara soal ahli notaris.
Kesimpulan yang bisa kelompok kami tarik jika dikaitkan dengan komunikasi, bahwa di balik komunikasi ada kepentingan-kepentingan yang menyertainya. Kepentingan melatarbelakangi politik. Selanjutnya beberapa kepentingan pun dipertengahkan oleh hukum, bahkan munculnya hukum juga karena ada kepentingan di sana.
25 Maret 2010
Psikologi Massa
Psikologi Massa
Dosen: Henny Wirawan
Pertemuan kali ini, mata kuliah kapita selekta membahas tentang psikologi massa. Berikut di bawah ini adalah resume tentang apa yang dipelajari pada pertemuan waktu itu.
Kita lebih merasa nyaman jika melakukan kegiatan secara bersama-sama, contohnya saja sekeompok burung, segerombolan binatang buas, dan segerombolan ikan, mereka pastintya mempunyai pemimpin yang akan selalu mereka ikuti.
Psikologi komunikasi tak lain membicarakan tentang perilaku kelompok. Di mana suatu kelompok merasa nyaman di karenakan anggota kelompok tersebut merasa nyaman karena mereka melakukan kegiatan yang sama.
Cara untuk mengambil keuntungan dari fenomena ini ialah dengan melakukan hal yang sebaliknya, tidak mengikuti budaya yang ada, menolak aturan kelompok dan menjadi pemimpin.
Di dalam suatu massa atau kelompok, orang yang memimpin adalah orang yang mendapatkan semua keuntungan dan orang yang mengikuti secara membabi buta merupaka orang yang akan mendapatkan resikonya.
Psiologi massa metrupakan cabang dari psikologi sosial, orang biasa bisa secara tiba-tiba mendapatkan kekuasaan dengan berperilaku kolektif. Karena pada awalnya sekelompok grup yang besar bisa membawa perubahan sosial yang dramatis dan tiba-tiba dengan cara yang melebihi perkembangan sebenarnya dan mengundang kontroversi.
Ilmuan sosial telah mengembangkan beberapa teori yasng berbeda untuk menjelaskan mengenai psikologi massa, dan cara bagaimana psikologi dari massa secara signifikan menunjuk pada psikologi orang di dalam kelompok tersebut. Ilmuan tersebut adalah Carl Jung, Gustave Le Bon, Wilfred Trotter, Gabriel Tarde, Sigmund Freud and Elias Canetti
Teori Klasik
Sigmund Freud:
- Orang yang berada di dalam kelompok cenderung berpikir berbeda dengan orang yang berdiri secara individu.
- Pikiran suatu kelompok akan menjadi satu dan menciptakan pola berpikir.
- Setiap entusiasi dari setiap anggota kelompok akan emningkat menjadi hasil dan akan melupakan tindakan asli mereka sebelumnya.
Le Bon:
- Merupakan hal yang klise jika suatu kelompok membuat suatu keadaan tanpa nama dan terkadang menciptakan suatu emosi.
Clark McPhail:
- ”The madding crowd” tidak emngabil jiwa secara sengaja atau di luar pikiran atau kesengajaan keliompok.
Norris Johnson:
- Setelah menginvestigasi keadaan panik yang terjadi pada tahun 1979, kelompok kecil yang terbentuk cenderung membantu satu sama lainnya, pemimpin sendiri menyamakan dirinya sebagai ide.
Theodor Adorno:
- mengkritisi kespontanan tindakan dari massa
- Massa merupakan suatu hasil produk dari kehidupan modern yang teradministrasi
- -"Ketika pemimpin menjadi sadar psikologi massa dan membawanya ke dalam tangan mereka sendiri, ia tidak lagi ada dalam arti tertentu ... Sama seperti sedikit orang percaya di kedalaman hati mereka bahwa orang-orang Yahudi adalah iblis, apakah mereka benar-benar percaya pada pemimpin mereka. Mereka tidak benar-benar mengidentifikasi diri dengan dia namun bertindak akan identifikasi ini, melakukan antusiasme mereka sendiri, dan dengan demikian berpartisipasi dalam kinerja pemimpin mereka ... Ini mungkin adalah ketidaknyataan atau kecurigaan mereka sendiri "psikologi kelompok" yang membuat fasis orang banyak begitu kejam dan tak bisa didekati. Jika mereka akan berhenti untuk alasan kedua, seluruh kinerja akan pergi ke keping, dan mereka akan pergi untuk panik.”
Edward Bernays (1891-1995):
- sepupu dari psikoalasisis sigmund freud ini, di pertimbangkan sebagai bapak di bgidang publik relation merupakan orang pertama yang mempengaruhi massa di alam bawah sadar merkea sendiri.
- Manipulasi di anggap penting untuk masyarakat, di mana pada ahal ini ia anggap berbahaya dan tidak masuk akal.
Teori Penularan
Di lindungi dengan adanya ketidaknamaan dalam kelompok , orang-orang tersebut meninggalkan tanggung jawab pribadi mereka dan menyerah kepada emosi kelompok.
Kelompok yang menggangap hidup mereka adalah kepunyaan mereka dan mencamputradukannya dengan emosi akan menarik orang kepada ketidakmasuk akalan bahakan bisa terjadi tindakan kekerasan.
Suatu kelompok menimbulkan pengaruh hipnotis terhadap anggota mereka, kelompok membuat orang bertindak dengan jalan tertentu.
Teori Konvergen
Teori konvergen menganggap bahwa perilaku kelompok tidak tercipta karena kelompok itu sendiri, tetapi bawaaan dari anggota yang ada di dalam kelompok tersebut.
Orang yang mempunyai perilaku yang sama cenderung membuat suatu kelompok. Seseorang dengan kesamaan sidat, cenderung menilai orang tersebut sbagai orang yang mempunyai pemikiran di mana mereka akan salaing melepaskan hal-hal yang berada di pikiran paling dalam.
Orang yang berada dalam kelompok cenderung tidak mau melakukan kegiatan sendiri karena mereka merasa jika melakukannya secara bersama-sama maka ia dan kelompoknya mempunyai tanggung jawab bersama-sama.
Teori Kemunculan Norma
Ralph Turner dan Lewis Killian
Suatu kelompok terbentuk secara kolektif terdiri dari orang-orang yang mempunyai beragam ketertarikan dan motif, terutama jika berada di kelompok yang kurang stabil (ekspresif, memprotes dan bettindak). Norma akan menjadi samar dan berubah jika contohnya seseorang memutuskan untuk memecahkan kaca jendela toko dan yuang lain mengikutinya dengan cara menjarah toko tersebut.
Orang-orang yang berada di dalam kelompok cenderung membuat peraturan mereka sendiri selama mereka berada di dalam kelompok. Orang yang berada di dalam kelompok mempunyai peran yang berbeda-beda, ada yang menjadi pemimpin, yang lain menjadi pengikut, orang yang tidak aktif atau bahkan lawan.
Perilaku kolektif bisa disebut sebagai tindakan penyesuaian diri (di aman orangmengikuti tindakan norma tersebut) atau menyimpang (di amna orang tersebut tidak mengikuti norma tersebut). Ini terjadi jika norma tersebut tidak jelas atau berkontradiksi dengan yang lainnya.
Empat Bentuk Perilaku kolektif
Kelompok
Gustave Lebon: The Crowd: A Study of the Popular Mind (1896),
Pembalikan yang tidak masuk akal kepada emosi binatang, Robert Park and Herbert Blumer setuju dengan spekulasi LeBon dan yang lain bahwa kelompok memang sangat emosional.
Suatu kelompok mampu menciptakan berbagai macam emosi tak hanya emosi negative seperti kemarahan dan ketakutan.
Neil Smelser, John Lofland mengajukan tiga bentuk dari kelompok:
– the panic (suatu ekspresi ketakutan),
– the craze (suatu ekspresi kesenangan), and
– the hostile outburst (suatu ekspresi kemarahan).
Publik
Park membedakan kelompok di mana kelompok bisa membuat emosi yang umum dan public membicarakan suatu isu yang sedang terjadi. Suatu public tidak dianggap sama dengan orang yang berada dalam amsyarakat. Publik terjadi jika terjadi suatu diskusi isu tertentu dan berhenti jika terjadi suatu kesepakatan akan diskuris tersebut.
Pengunaan survei sample yang menjadi inti dari opini publik yang hampir membuat disiplin akademi itu sendiri.
Massa
Ini terbentuk bukan dari bentuk suatu interaksi tapi dari usaha di mana media massa mengenali suatu penonton. Meia pertama adalah cetak. Setelah beberapa tahun terciptalah berbagai macam media dan rasio penciptaan menjadi berkembang.
Dampak dari suatu massa menjadi sangat besar maka dari itulah sekarang ini massa mempunyai dampak yang besar dalam masyarakat. Pebelajaran tentang opini publik dan komunikasi massa hampir menjadi suatu bidang akademik.
Media massa cenderung merayu dengan cara memberikan opsi kepada orang untuk bisa memilih seperti elektronik, deodoran. Komputer, dan lainnya. Seperti bagaimana publik bertindak dalam menyelesaikan suatu isu, massa bertindak ketika seseorang memilih opsi yang telah ditawarkan.
Pergerakan Sosial (Blummer)
- Pergerakan sosial aktif seperti Revolusi Prancis (Mencoba mengubah masyarakat)
- Pergerakan sosial ekspresif seperti Pecandu alkohol (mencoba mengubah orang dalam kelompoknya)
- kurang daripada bentuk-bentuk lain, dan tidak berubah sesering bentuk lain.
- mungkin mulai sebagai perilaku kolektif tapi seiring waktu menjadi tetap sebagai lembaga sosial.
19 Maret 2010
Anggota Kelompok
VALIN LAURA 915070125
SUWITO 915070009
ROSWITA 915070142
JENIFER THEO 915070102
SASYA RACHELIA 915070026
WILLIAM WONGSO 915070123
AMELIA LORENZA 915070131
SUWITO 915070009
ROSWITA 915070142
JENIFER THEO 915070102
SASYA RACHELIA 915070026
WILLIAM WONGSO 915070123
AMELIA LORENZA 915070131
Langganan:
Postingan (Atom)