Perbedaan gender merupakan perbedaan perilaku psikologi dan fisik yang secara umum mengubungkan antara spesies wanita dan pria. Gender dan sex tidaklah sama. Perempuan dan laki-laki menunjuk pada sex. Sedangkan feminin dan maskulin menunjuk pada gender. Maka, perempuan dan laki-laki lebih dispesifikasikan ke dalam identitas seksual yang merupakan determinasi biologi. Gender menjelaskan bahwa maskulin dan feminin didasarkan pada konsepsi sosial yang diartikan untuk sex.

Suatu sex dikelompokan dengan kode genetik :
· Ciri-ciri biological terprogram dengan kode ini
· Kita menggunakan ciri-ciri biological ini untuk mengklasifikasi sex perempuan dan laki-laki.
· Ciri-ciri ini mencakup perbedaan dalam keadaan luar kelamin dan keadaan dalam pada organ sex, hormon, persentasi dari body fat, otot, jumlah dari rambut di badan
· Tanpa memperhatikan operasi gender yang telah dilakukan, sex adalah permanen.
· Sex adalah properti individual.
Suatu gender lebih kompleks daripada suatu sex :
· Seseorang tidak tidak dilahirkan dengan sebuah gender, hanya penempatan yang lebih kuat atau lebih lemah dari gender itu sendiri.
· Sex menentukan bagaimana seseorang harus disesuaikan dengan peran gender, tapi itu tidak merupakan jaminan.
· Arti dari gender tidak universal dan tidak juga stabil.
· Gender menunjuk arti sex secara kultural.
. Gender terpisah dengan apa yang di bangun oleh masyarakat, lain halnya dengan sex yang semuanya biologis.
· Tiap-tiap kebudayaan menentukan arti dari sex itu sendiri, yang menempatkan mereka menjadi kualitas, aktivitas dan identitas tertentu.
· Arti-arti tersebut di lekatkan kepada setiap struktur kehidupan budaya sosial.
· Setiap budaya merasa arti tersebut ”alami” atau ”benar”
· Kita terus menerus menerima pesan dalam budaya kita dan menguatkan pesan tersebut.
· Kita sering memakai sebuah gender yang telah diberikan oleh budaya kita yang didasari oleh sex kita.
· Walaupun itu tidak selalu terjadi, persepsi sosial ini secara umum memastikan bahwa perempuan akan menjadi feminin dan laki-laki akan menjadi maskulin.
Kesehatan Fisik.
Dari konsepsi kematian, tapi terutama pada masa remaja, perempuan lebih sulit untuk diserang penyakit kronis dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini karena perempuan mempunyai dua kromosom X.
Neurologi
Otak wanita lebih padat dibandingkan dengan otak laki-laki, walaupun kecil, otak perempuan lebih padat dengan neuron yang lebih dikhususkan untuk menanggapi bahasa. Perempuan memiliki fungsi bahasa yang terdistribusi ke dalam kedua cerebral hemispheres, dimana laki-laki lebih terkonsentrasi di hemisphere kiri. Ini menyebakan laki-laki lebih beresiko mengalami dileksia.
Psikologi
Di dalam skala pembelajaran yang lebih luas, sebagian besar kemampuan kognitif dan ciri-ciri psikologi memperlihatkan sedikit atau ketidakadaan rata-rata dari perbedaan antara sex-sex. Dimana ada pebedaan sex, maka akan selalu terjadi saling melengkapi yang sangat amat antara sex-sex tsb.
Tes Personaliti
Di dalam lima besar dari ciri-ciri atau karakter personaliti, perempuan memiliki skor lebih tinggi dalam hal menyetujui (kecenderungan menjadi berbelas kasihan dan bekerjasama) dan kecenderungan untuk merasa gelisah, marah, dan depresi. MBT of Demographics surveys mengindikasikan bahwa 60%-75% perempuan lebih memilih perasaan dan 55%-80% laki-laki lebih memilih pemikiran (logika).
Agresif
Laki-laki pada umumnya lebih agresif daripada perempuan (Coi&Dodge1997, Maccoby & Jacklin 1974, Buss 2005). Beberapa riset mengajukan bahwa perempuan tidak perlu untuk mengurangi keagresifan, namun mereka cenderung untuk menunjukkan keagresifan mereka tidak secara terang-terangan dan jarang menggunakan cara fisik.
Systematizing and empathizing
Perempuan memiliki skor yang lebih tinggi dalam hal berempati. Empati disini termasuk tindakan-tindakan dalam pengambilan keputusan, orientasi pada sesama, dan konsentrasi empatik. Bagaimana pun juga tindakan-tindakan tersebut subjektif, dan empati mungkin lebih berhubungan dengan perangender daripada sex.
Komunikasi
Kebudayaan maskulin dan feminin dan individualitas secara umum berbeda pada bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain. Sebagai contoh, Orang-orang yang feminin cenderung untuk menutup diri dari pada orang yang maskulin. Orang yang feminin cenderung untuk mengkomunikasikan sesuatu yang berhubungan dengan afeksi dan dengan lebih intim serta nyaman dibanding dengan orang maskulin.
Secara tradisional, orang maskulin dan feminin berkomunikasi dengan orang lain dengan gendernya masing-masing dan dengan cara yang berbeda. Orang-orang maskulin biasanya membangun persahabatan yang didasari oleh kesenangan/hobi umum, sedangkan orang feminin lebih karena suport dan saling pengertian. Begitu pula dengan persahabatan dengan gender yang berbeda juga didasari oleh kedekatan, penerimaan, usaha, komunikasi, hobi umum, afeksi, dan rasa tertarik.
Orang yang feminin tidak merasa bermasalah bila mengkomunikasikan kelemahan-kelemahan mereka. Karena alasan inilah, orang-orang yang feminin lebih sering dapat dekat sekali dengan teman mereka dibandingkan dengan orang maskulin. Orang yang feminin cenderung menghargai teman-teman mereka yang mendengarkan dan berkomunikasi tanpa kritik, mengkomunikasikan suport, perasaan, harga diri, kenyamanan, dsb. Dan orang yang feminin lebih menyukai komunikasi tatap muka.
Orang maskulin lebih mengharapkan adanya suatu hubungan lebih dari sekedar teman bila bersahabat dengan lawan jenis dibandingkan dengan orang yang feminin.
Komunikasi dan Budaya Gender
Sebuah budaya komunikasi adalah sebuah kelompok orang dengan norma-norma yang berlaku yang mengatur bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain dalam kelompok tersebut.
Kebudayaan ini dapat dikategorikan ke dalam maskulin dan feminin. Kebudayaan komunikasi yang lain termasuk Afrika-Amerika, orang yang lebih tua, Indian penduduk asli Amerika, laki-laki gay, lesbian, dan orang-orang dengan keterbatasan. Kebudayaan gender terbentuk dan berlanjut dengan interaksi dengan orang lain. Melalui komunikasi yang kita pelajari tentang kualitas dan aktivitas apa yang sudah ditentukan kebudayaan untuk sex kita.
Gaya-Gaya Komunikasi
Studi Deborah Tannen menemukan perbedaan gender dalam gaya komunikasi:
· orang maskulin cenderung untuk berbicara lebih daripada orang feminine, di muka umum, tapi orang feminin cenderung untuk berbicara lebih dari orang maskulin di rumah.
· Orang Feminin lebih cenderung untuk saling berhadapan dan melakukan kontak mata ketika berbicara, sementara orang-orang maskulin melihat ke arah lain.
· Orang Maskulin cenderung untuk melompat dari topik ke topik, tapi orang feminin cenderung untuk berbicara panjang lebar tentang satu topik.
· Saat mendengarkan, perempuan lebih banyak mengeluarkan suara-suara seperti "mm-hmm" dan "eh-eh", sedangkan orang-orang maskulin lebih cenderung diam.
· Orang Feminin cenderung untuk menyatakan persetujuan dan dukungan, sementara orang maskulin lebih cenderung untuk melakukan debat.
Julia T. Wood menjelaskan cara "perbedaan antara budaya menanamkan komunikasi gender." Perbedaan ini dimulai pada masa kanak-kanak.
Penelitian Maltz dan Borker's menunjukkan bahwa permainan anak-anak membantu anak-anak bersosialisasi ke dalam budaya maskulin dan feminin.
Sebagai contoh, anak perempuan bermain rumah-rumahan mempromosikan hubungan pribadi, dan bermain rumah-rumahan tidak perlu memiliki aturan tetap atau tujuan.
Laki-laki, bagaimanapun, cenderung untuk bermain olahraga tim yang lebih kompetitif dengan tujuan dan strategi yang berbeda.
Perbedaan-perbedaan ini sebagai anak-anak membuat orang feminin beroperasi dari asumsi tentang komunikasi dan menggunakan aturan untuk komunikasi yang berbeda secara signifikan dari yang didukung oleh sebagian besar orang maskulin
Wood Menghasilkan teori di bawah ini mengenai komunikasi gender:
· Kesalahpahaman berasal dari gaya interaksi yang berbeda
· orang Maskulin dan feminin memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan dukungan, perhatian dan kepedulian
· orang Maskulin dan feminine sering melihat pesan yang sama dengan cara yang berbeda
· orang Feminin cenderung untuk melihat komunikasi lebih sebagai cara untuk menghubungkan dan meningkatkan rasa kedekatan dalam hubungan
· Orang Maskulin melihat komunikasi lebih sebagai cara untuk mencapai tujuan
· Orang-rorang Feminin lebih banyak memberikan tanggapan dalam bentuk isyarat dan isyarat-isyarat nonverbal untuk menunjukkan minat dan membangun hubungan
· Orang Maskulin menggunakan sinyal umpan balik kepada kesepakatan aktual dan ketidaksepakatan
· Bagi orang feminin, "ums" "eh-huhs" dan "yes" hanya berarti mereka yang menunjukkan minat dan bersikap responsive
· Bagi orang-orang yang maskulin, tanggapan yang sama ini menunjukkan kesepakatan atau ketidaksepakatan dengan apa yang sedang dikomunikasikan
· Bagi orang feminin, berbicara adalah cara utama untuk menjadi lebih dekat kepada orang lain
· Bagi orang-orang yang maskulin, tujuan bersama dan penyelesaian tugas adalah cara utama untuk menjadi dekat dengan orang lain
· Orang maskulin lebih mungkin untuk mengekspresikan peduli dengan melakukan sesuatu yang konkret atau melakukan sesuatu bersama-sama dengan orang lain
· Orang Feminin dapat menghindari disakiti oleh orang-orang maskulin dengan menyadari betapa orang maskulin peduli untuk berkomunikasi.
· Orang Maskulin dapat menghindari disakiti oleh orang-orang feminin dengan menyadari bagaimana orang feminine peduli untuk berkomunikasi
· Orang yang Feminin ingin mengekspresikan kepedulian kepada orang maskulin dengan cara melakukan sesuatu untuk mereka atau dengan mereka.
· Orang Maskulin ingin mengekspresikan kepedulian keapda orang feminine dengan cara berkomunikasi secara lisan bahwa mereka peduli.
· Orang maskulin menekankan kemerdekaan dan untuk itu kecil kemungkinannya untuk meminta bantuan dalam mencapai objektif
· Orang maskulin sangat kecil kemungkinannya untuk menanyakan arah ketika mereka kehilangan daripada orang feminine
· Orang maskulin mempunyai keinginan untuk mempertahankan otonomi dan tidak tampak lemah atau tidak kompeten
· identitas Orang feminin lebih mengembangkan hubungan daripada orang maskulin
· orang Feminin lebih mencari dan menyambut hubungan dengan orang lain daripada orang maskulin
· Orang Maskulin cenderung berpikir bahwa hubungan membahayakan kemerdekaan mereka
· Bagi orang feminin, hubungan merupakan sumber konstan untuk minat, perhatian dan komunikasi
· Bagi orang-orang yang maskulin, hubungan bukan sebagai pusat
· Istilah "Berbicara tentang kita" berarti hal yang sangat berbeda untuk orang-orang maskulin dan feminine
· Orang Maskulin merasa bahwa tidak perlu berbicara tentang hubungan yang berjalan baik
· Orang Feminin merasa bahwa sebuah hubungan berjalan baik selama mereka berbicara tentang hal itu
· Orang Feminin dapat menghindari disakiti oleh orang maskulin dengan menyadari bahwa orang tidak selalu merasa perlu berbicara tentang hubungan yang berjalan baik
· Orang Maskulin dapat membantu memperbaiki komunikasi dalam suatu hubungan dengan menerapkan aturan komunikasi feminine
· Orang Feminin dapat membantu memperbaiki komunikasi dalam suatu hubungan dengan menerapkan aturan komunikasi maskulin
· Sama seperti aturan komunikasi Barat belum tentu berlaku dalam budaya Asia, aturan maskulin belum tentu berlaku dalam budaya feminin, dan sebaliknya.
Akhirnya, Wood menggambarkan bagaimana jenis kelamin yang berbeda dapat berkomunikasi satu sama lain dan memberikan enam saran untuk melakukannya:
1. Individu harus menangguhkan penilaian. Ketika seseorang menemukan nya sendiri bingung dalam percakapan lintas-gender, ia harus menahan kecenderungan untuk menghakimi dan bukannya mengeksplorasi apa yang terjadi dan bagaimana orang itu dan pasangan mereka mungkin lebih memahami satu sama lain.
2. Mengakui keabsahan gaya komunikasi yang berbeda. Feminin cenderung untuk menekankan hubungan, perasaan dan responsif ,tidak mencerminkan ketidakmampuan untuk mematuhi aturan-aturan maskulin untuk bersaing lebih dari maskulin, stres adalah kegagalan untuk mengikuti peraturan feminine atau kepekaan terhadap orang lain. Wood mengatakan bahwa tidak sepantasnya untuk menerapkan satu kriteria - baik maskulin atau feminin - untuk kedua jenis kelamin 'komunikasi. Sebaliknya, orang harus menyadari bahwa tujuan yang berbeda, prioritas dan standar yang berkaitan dengan masing-masing.
3. Menyediakan terjemahan isyarat. Mengikuti saran sebelumnya membantu orang menyadari bahwa orang-orang maskulin dan feminin cenderung untuk mempelajari aturan yang berbeda untuk interaksi dan yang masuk akal untuk berpikir tentang membantu yang lainnya menerjemahkan gender komunikasi Anda. Hal ini terutama penting karena tidak ada alasan mengapa salah satu jenis kelamin harus secara otomatis memahami aturan-aturan yang bukan bagian dari budaya gendernya.
4. Mencari terjemahan isyarat. Interaksi juga dapat ditingkatkan dengan mencari terjemahan isyarat dari orang lain. Mengambil pendekatan konstruktif untuk interaksi dapat membantu meningkatkan reaksi budaya lawan jenis.
5. Memperbesar gaya komunikasi Anda sendiri. Dengan mempelajari budaya komunikasi lain,kita tidak hanya belajar tentang budaya lain, tetapi juga tentang diri kita sendiri. Bersikap terbuka untuk belajar dan tumbuh dapat memperbesar keterampilan komunikasi sendiri dengan memasukkan aspek-aspek komunikasi yang ditekankan dalam kebudayaan lain. Menurut Wood, individu disosialisasikan ke maskulinitas bisa belajar banyak dari budaya feminin tentang bagaimana dukungan teman-teman. Demikian pula, budaya feminin dapat memperluas cara mereka mengalami keintiman dengan menghargai "kedekatan dalam melakukan" itu adalah kekhususan maskulin.
6. Wood mengulangi lagi, sebagai saran keenam, bahwa individu harus menangguhkan penilaian. Konsep ini sangat penting karena penilaian adalah suatu bagian dari budaya Barat yang tidak sulit untuk mengevaluasi dan kritik orang lain dan mempertahankan posisi kita sendiri. Sementara budaya jender sibuk menghakimi budaya gender lain dan membela diri mereka sendiri, mereka tidak membuat kemajuan dalam berkomunikasi secara efektif. Jadi, menangguhkan penilaian adalah pertama dan terakhir prinsip efektif komunikasi lintas gender.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar