Daftar Pertemuan Kapita Selekta Kelas B

31 Maret 2010

Kepemimpinan dan Komunikasi

Dosen: Parino

Leadership merupakan sebuah topik bahasan yang tidak asing lagi bagi kita. Mungkin kita sudah lama mengetahui dan mengenalnya dari dulu, meskipun tidak banyak dari kita yang mampu menerapkannya dalam keseharian. Entah disadari ataupun tidak, kini leadership semakin gencar didengungkan, bahkan sudah menjadi salah satu mata kuliah wajib hampir di semua jurusan perguruan tinggi.



Sebenarnya apakah leadership itu? Mengapa leadership menjadi suatu perhatian khusus? Leadership atau kepemimpinan merupakan sesuatu yang menarik untuk dibahas dan dipelajari. Muncul berbagai macam teori kepemimpinan, dan bersamaan itu pula muncul keraguan mengenai hal tersebut. Apakah seorang pemimpin itu dilahirkan atau dibentuk?



Seorang pemimpin memiliki beban dan tanggung jawab yang besar untuk menjalankan misi-misinya menuju visi yang ingin dicapai. Pemimpin yang satu dengan yang lain memiliki karakter dan gaya kepemimpinan yang berbeda. Sebagai contoh, para presiden negara kita memiliki karakternya sendiri-sendiri. Ir. Soekarno merupakan seorang orator yang hebat, beliau dapat menggerakan rakyat melalui pidato-pidatonya. Sedangkan Gus Dur adalah sosok yang cerdas dan berpikiran jauh ke depan, bahkan terkadang melawan arus. Beliau lebih santai dalam menjalankan pemerintahannya. Lain halnya dengan Gus Dur, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memilih langkah sistematis dan retorikal dalam memimpin negara ini. Presiden Amerika Serikat sekarang ini, Barack Obama, memiliki karakter yang cerdas dan lebih manusiawi daripada pendahulu-pendahulunya. Beliau yang dulunya juga aktivis Harvard, membentuk basis pendukungnya dari bawah untuk dapat memenangkan pemilu Amerika Serikat. Beberapa tahun lalu, juga ada istilah wanita besi untuk Margaret Thatcher dikarenakan karakter tegas dalam kepemimpinannya sebagai perdana menteri Inggris.



Dalam menjalankan kepemimpinannya, seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan emosi dan kompetensi diri. Hal-hal tersebut menjadi landasan seorang pemimpin untuk mengelola dirinya sendiri dan orang lain sehingga dapat menjadi pemimpin yang baik.

1. Kompetensi Diri

Adalah kemampuan yang menentukan bagaimana kita mengelola diri sendiri.

a. Kesadaran Diri

- Kesadaran diri emosi

Membaca emosi diri sendiri dan mengenali dampaknya.

- Penilaian diri yang kuat

Mengetahui kekuatan dan keterbatasan diri.

- Kepercayaan diri

Kepekaan yang sehat mengenai harga diri dan kemampuan diri.

b. Pengelolaan Diri

- Kendali diri emosi

Mengendalikan emosi dan dorongan yang meledak-ledak.

- Transparansi

Menunjukkan kejujuran dan integritas.

- Kemampuan menyesuaikan diri

Kelenturan dalam beradaptasi dengan perubahan situasi.

- Pencapaian dorongan kerja

Memperbaiki kinerja dan memenuhi standar prestasi.

- Inisiatif

Kesiapan untuk bertindak dan menggunakan kesempatan.

- Optimisme

Melihat sisi positif suatu peristiwa.



2. Kompetensi Sosial

Adalah kemampuan yang menentukan bagaimana kita mengelola hubungan.

a. Kesadaran Sosial

- Empati

Merasakan emosi orang lain serta memahami sudut pandang orang lain.

- Kesadaran Organisasional

Membaca situasi yang terjadi.

- Pelayanan

Mengenal dan memenuhi kebutuhan pengikut, klien, dan juga pelanggan.

b. Pengelolaan Relasi

- Kepemimpinan yang menginspirasi

Membimbing dan memotivasi dengan semangat.

- Pengaruh

Menguasai berbagai taktik membujuk.

- Mengembangkan orang lain

Menunjang kemampuan orang lain dengan umpan balik dan bimbingan.

- Katalis perubahan

Memprakarsai, mengelola, dan memimpin di arah yang baru.

- Pengelolaan konflik

Menyelesaikan pertengkaran dan kesalahpahaman.

- Membangun ikatan

Menumbuhkan dan memelihara jaringan relasi.

- Kerja kelompok dan kolaborasi

Kerja sama dan pembangunan kelompok.



Seorang pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda satu sama lain. Menurut Daniel Goleman, Richard Boyatzis dan Annie McKee dalam Primal Leadership, gaya seseorang dalam memimpin dapat dibedakan sebagai berikut :

a. Visioner

- Gaya ini membangun resonansi dengan menggerakkan orang-orang ke arah tujuan bersama.

- Dampak iklim emosi : paling positif

- Tepat digunakan ketika perubahan membutuhkan visi baru atau ketika dibutuhkan arah yang jelas.

b. Pembimbing

- Gaya ini membangun resonansi dengan menghubungkan apa yang diinginkan seseorang dengan sasaran organisasi.

- Dampak iklim emosi : sangat positif

- Tepat digunakan ketika membantu karyawan memperbaiki kinerjanya dengan kemampuan jangka panjang.

c. Afiliatif (pembangun relasi)

- Gaya ini membangun resonansi dengan menciptakan harmoni dengan menghubungkan orang-orang.

- Dampak iklim emosi : positif

- Tepat digunakan saat menengahi benturan dalam tim, memotivasi di saat-saat yang menekan, atau menguatkan hubungan.

d. Demokratis

- Gaya ini membangun resonansi dengan menghargai masukan orang dan mendapatkan komitmen melalui partisipasi.

- Dampak iklim emosi : positif

- Tepat digunakan saat membangun persetujuan atau kesepakatan, atau mendapatkan masukan yang berharga dari bawahan.

e. Penentu Kecepatan

- Gaya ini membangun resonansi dengan menghadapi tantangan dan tujuan yang menarik.

- Dampak iklim emosi : karena seringkali dilaksanakan secara buruk, dampaknya seringkali sangat negative. Namun jika dilakukan dengan benar maka hasilnya akan positif.

- Tepat digunakan ketika ingin mendapatkan hasil berkualitas tinggi dari tim yang bermotivasi dan kompeten.

f. Memerintah

- Gaya ini membangun resonansi dengan menenangkan rasa takut dengan memberi arah yang jelas di dalam keadaan darurat.

- Dampak iklim emosi : karena seringkali disalahgunakan, dampaknya sangat negative.

- Tepat digunakan ketika sangat kritis untuk membangkitkan perubahan arah atau pada pegawai/bawahan yang bermasalah.









Keterkaitan antara neurologi kepemimpinan dengan fungsi otak, yaitu :

Otak kiri Otak kanan

-pemikiran analistik - pemikiran holistic

-logika - intuisi

-bahasa - kreatifitas

-sains dan matematik - seni dan music

Amigdala, salah satu bagian otak, bertanggung jawab penuh atas perilaku seseorang saat mempertaruhkan sesuatu.

Seseorang yang cerdas di satu bidang tidak berarti cerdas di semua bidang karena orang dilahirkan dengan keterbatasan-keterbatasannya sendiri.

Dalam pembahasan kepemimpinan, ada pemikiran menggelitik yang menghubungkan antara jenius dan kegilaan. Pemikiran itu muncul karena banyak tokoh-tokoh pemimpin dan tokoh-tokoh jenius yang ternyata memiliki gangguan kejiwaan. Meskipun masih sulit didiagnosa dan dipastikan secara gamblang, ada 7 penyakit yang mengaitkan antara kelainan jiwa dan jenius :

1. Disleksia

Adalah gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan mengenali dan memahami bahasa tertulis ketika membaca, menulis, dan mengeja.

Contoh : Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Walt Disney, Lee Kuan Yew.

2. Bipolar

Dicirikan oleh perubahan suasanan hati antara euphoria dan depresi.

Contoh : Winston Churchill, Robert Schumann, Vincent Van Gogh, Tim Burton.

3. Schizofrenia

Adalah gangguan kejiwaan parah yang ditandai dengan halusinasi, delusi, emosi yang tumpul dan penarikan diri yang dalam.

Contoh : John Nash

4. Obsesif Compulsive Disorder (OCD)

Adalah kondisi kejiwaan yang ditandai dengan tekanan untuk berpikir dan berperilaku terus-menerus, seperti terobsesi untuk terus mencuci tangan, mengecek pintu berulang-ulang, dll.

Contoh : Nicolas Tesla, Howard Hughes, Marc Summers.

5. Autistic Savant

Sekitar 10 persen penderita autis memiliki savant syndrome yang menunjukkan bakat-bakat luar biasa seperti menghitung cepat, kemampuan mekanik, seni lukis, music.

Contoh : beberapa professor di universitas yang cenderung suka menyendiri terdiagnosis memiliki autistic savant.

6. Terminal Illness

Penyakit terminal dapat memicu respon emosional yang luar biasa pada penderitanya.

Contoh : John Stuart Mills menderita TBC yang tidak dapt disembuhkan, setelah diagnosa dia mulai menulis karya-karya yang membuatnya terkenal.

7. Epilepsi

Banyak orang cerdas yang memiliki riwayat epilepsi.

Contoh : Julius Caesar, Napoleon Bonaparte, Alexander Agung, Charles Dickens.



Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang pemimpin yang ideal haruslah cerdik dalam menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan keadaan organisasi, kebutuhan organisasi, tujuan organisasi termasuk didalamnya mencermati situasi dan kondisi dari bawahnnya. Seorang pemimpin haruslah memiliki gaya kepemimpinan yang fleksibel agar dapat mengambil langkah dan tindakan yang tepat sasaran. Tentu saja hal tersebut membutuhkan tingkat kecerdasan emosional yang baik pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar