Daftar Pertemuan Kapita Selekta Kelas B

01 Juni 2010

LINGKUNGAN DAN MEDIA MASSA



Let’s Go Green!
    
Dosen: Evi, The Jakarta Post
                
      Dalam lima tahun terakhir, isu lingkungan menjadi isu utama masyarakat global yang marak diangkat oleh berbagai media massa, periklanan dan juga public relations. Isu lingkungan menjadi suatu hal yang tiada habisnya untuk dikupas, bahkan mulai dianggap ‘seksi’ untuk bersanding dengan isu-isu seperti politik, HAM dan HIV/Aids.
      Melihat satu dasawarsa ke belakang, isu lingkungan saat itu tidak mendapat tempat untuk menjadi suatu topik bahasan. Walaupun global warming sudah mulai disuarakan, masih sedikit masyarakat yang menyadarinya bahkan tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai sebuah hal konyol dan mengada-ada hasil penemuan para ilmuwan.
      Penyelenggaraan Conference of Parties 13 United Nations Climate Change Conference (COP 13 UNCCC) pada Desember 2007, diikuti dengan munculnya film Al Gore “The Inconvenient Truth” menjadi titik tolak yang sangat signifikan terhadap kehadiran isu lingkungan. Kesadaran masyarakat akan isu lingkungan meningkat hingga terlahir gerakan dan pencanangan “Let’s Go Green!” di seluruh penjuru dunia.
      Slogan “Let’s Go Green!” merajalela  dan dapat ditemukan di berbagai negara. Tidak hanya organisasi lingkungan, bahkan pemerintah, perusahaan swasta dan organisasi lainnya pun beramai-ramai menggunakan dan mengumandangkan slogan tersebut. Tidak jarang kegiatan ataupun produk yang turut mencantumkan slogan tersebut. Meskipun demikian, apakah slogan tersebut terwujud dalam suatu tindakan nyata yang benar-benar ‘go green’? Atau hanya sekadar terbatas pada bunyi slogan itu sendiri?
      Let’s Go Green!” merupakan sebuah solusi yang digadang-gadang untuk mengatasi isu pemanasan global. Pemanasan global yang mulai mengancam semua umat manusia dengan perubahan iklim yang ekstrim dan temperatur dunia yang kian hari kian memanas hingga mampu mencairkan gunung dan lapisan es di kutub. Menipisnya lapisan es di kutub yang mana merupakan habitat polar bear (beruang kutub), menjadikan polar bear korban pertama pemanasan global yang terancam keberlangsungan hidupnya.
      Pemanasan global bukanlah sebuah isu sederhana. Pemanasan global yang disebabkan oleh pelepasan CO2 dan emisi lain yang merusak lapisan ozon, memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di muka bumi. Sehingga penanganannya pun jauh lebih kompleks dari sekedar slogan “Let’s Go Green!”. Tidak ada yang salah dengan slogan tersebut. Tetapi, kalau hanya sekedar slogan tidak akan ada perubahan mendasar yang akan mengurangi dampak pemanasan global itu sendiri.
      Sebagai contoh, sejumlah organisasi dan perusahaan seringkali hanya menggunakan program dengan embel-embel ‘go green’ nya untuk melakukan promosi, pencitraan, maupun melipatgandakan keuntungan. Sangat disayangkan mereka terlalu terfokus untuk mencari nama di hadapan publik dengan memanfaatkan program ‘go green’, tanpa diikuti kepedulian yang sesungguhnya untuk lingkungan. Banyak ditemui gerakan penanaman pohon oleh organisasi dan perusahaan tertentu, yang ternyata hanya sekedar ‘menanam’ dan tidak ada tindak lanjut untuk terus memantau hasil penanaman pohon mereka. Tidak sedikit pula yang menjual ‘green product’ dengan harga lebih mahal untuk konsumen yang ingin ramah lingkungan. Tetapi ketika diselidiki, hanyalah ‘green poduct’ bohongan belaka.
      Let’s Go Green!” yang sebenarnya mencakup hal-hal yang sangat luas dan detil, antara lain :
  • Mencari energi ramah lingkungan (angin, matahari, geothermal)
  • Menjaga hutan
  • Mengurangi polusi udara, air, dan emisi CO2 serta metan
  • Mengurangi sampah dengan menerapkan 3R (ReduceReuseRecycle)
  • Menghemat air
  • Menghemat energi untuk mengurangi emisi dari fosil fuel
  • Mengurangi gaya hidup boros menjadi lebih ramah lingkungan, misal dengan mengurangi konsumsi daging karena peternakan intensif turut menyumbang emisi.
      Dalam pelaksanaan “Let’s Go Green!”, media massa dan personilnya (wartawan, public relations, maupun praktisi iklan) memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan dan menyebarkan informasi yang benar dan jujur mengenai lingkungan. Bagaimanapun, isu lingkungan baik pemanasan global ataupun “Let’s Go Green!” merupakan isu penting yang menyangkut nasib dunia, nasib seluruh umat manusia.
      Wartawan menjadi ujung tombak terdepan yang harus kritis di tengah situasi yang dimanfaatkan banyak orang. Wartawan pula yang harus menjadi pembela kebenaran pertama untuk masyarakat. Misal, wartawan harus kritis dalam acara ‘go green’ seperti gerakan penanaman pohon, dll. Acara-acara yang mengaku ramah lingkungan, tetapi sponsornya sedang ramai dibicarakan karena merusak lingkungan.
      Tidak dapat dipungkiri bahwa peran media massa untuk lingkungan sangatlah besar. Media massa sebagai sarana utama pembentuk opini publik haruslah kritis dan sensitif terhadap isu-isu lingkungan. Mereka menjadi penentu utama ke mana opini publik akan diarahkan, terutama mengenai isu lingkungan yang kini tidak lagi menjadi hal kecil dan remeh bagi masyarakat dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar